Heroin merupakan obat ilegal yang bisa membuat orang menjadi candu (adiktif). Hampir di seluruh dunia, jumlah pecandu heroin sangat tinggi. Alasannya, para pecandu sulit lepas dari cengkraman barang haram tersebut, dan bila sampai berhenti, pecandu itu harus siap meneima segala risiko penarikan diri yang akan diterimanya.

Padahal, bila para pecandu tidak bisa lepas dan menjauh dari pemakaian heroin, berisiko pada kondisi medis yang parah, dan tidak jarang berujung pada kematian.  Selain candu, sebagian besar heroin yang disuntikkan akan menciptakan risiko tambahan bagi pengguna, seperti AIDS dan infeksi lainnya.

Tahukah Anda, kalau heroin pertama kali diproduksi untuk pengobatan suatu penyakit? Pada tahun 1898 perusahaan farmasi dari Jerman, Bayer memproduksi dan memasarkan heroin sebagai pengobatan untuk Tuberkulosis (TB), serta sebagai obat untuk kecanduan morfin.

Heroin (seperti opium dan morfin) terbuat dari getah tanaman bunga poppy (opium). Kemudian, getah opium dikeluarkan dari kelopak bungga poppy. Setelah itu, opium akan disuling untuk membuat morfin, lalu disuling lagi menjadi berbagai bentuk heroin.

Suntik Heroin
Suntik Heroin

Penyuntikkan merupakan metode pemakaian heroin paling populer di kalangan pecandu. Caranya, heroin akan dicairkan melalui proses yang dikenal sebagai `freebasing`. Kemudian ditarik ke dalam jarum suntik, dan disuntikkan langsung ke dalam aliran darah.

Karena kebiasaan buruk para pecandu heroin yang kerap berbagi jarum suntik, membuat mereka berisiko juga menyebarkan penyakit seperti HIV/AIDS dan hepatitis. Selain itu, bentuk lain dari penggunaan heroin adalah diendus atau sniffing, serta dijadikan rokok.

Tubuh manusia mengandung reseptor opiat di seluruh anatominya. Beberapa reseptor opiat ini mengontrol rasa senang, rasa sakit, dan emosional. Reseptor pecandu opiat sedang mencoba untuk terlibat ketika mereka menggunakan heroin. Nyeri pun berkurang dan otak menawarkan sensasi kesenangan atau euforia.

Dampak seperti ini yang membuat para pecandu tak bisa lepas dari barang haram tersebut.

Ada reseptor opiat lainnya di batang otak yang mengontrol fungsi yang tidak disadari, seperti tekanan darah dan pernapasan. Ketika seseorang menggunakan heroin, obat ini diubah menjadi morfin yang melekat pada semua reseptor opiat. Termasuk yang mengontrol pernapasan. Tidak ada cara untuk mengetahui berapa banyak heroin akan menyebabkan reseptor menjadi overload dan berhenti beroperasi pada waktu tertentu.

Memiliki sifat adiktif, membuat pecandu susah lepas dari lingkaran syaitan, dan berusaha keras untuk mendapatkan obat-obat ini. Beragam cara pun ditempuh, mulai dari mengumpulkan uang (gaji) sampai mencuri.

Efek Heroin
Efek Heroin

Itulah alasan mengapa banyak para pecandu sering terlibat dalam perilaku berisiko seperti prostitusi atau perampokan bersenjata, dan menempatkan hidup para pecandu dalam bahaya.

Untuk menghentikan kebiasaan menggunakan heroin, banyak pecandu yang harus menjalani rehabilitasi jangka panjang. Meski sudah direhabilitasi, kemungkinan untuk kambuh tetap saja ada.

Bahkan, karena rasa takut mereka berhasil berhenti dari perilaku buruknya tersebut, beberapa pecandu takut untuk mencoba dan memperbaiki kehidupannya.

Mentalitas seperti ini sangatlah berbahaya. Karena setiap kali pecandu menolak untuk mencoba, mereka menempatkan diri dalam risiko dari faktor-faktor berbahaya lainnya.

Untuk itu, dibutuhkan bantuan tenaga terlatih, profesional dan berpengalaman. Bahaya penggunaan heroin dapat dikurangi hanya dengan mengambil langkah pertama menuju pemulihan.

Sumber : http://health.liputan6.com/read/2067296/cara-heroin-masuk-ke-tubuh-dan-pengaruhi-otak-manusia