Masa kehamilan merupakan masa yang campur aduk bagi wanita. Bukan hanya emosi saja yang bercampur aduk, tapi juga rasa tak nyaman hingga rasa was-was akan berbagai gangguan kesehatan yang bisa terjadi pada ibu maupun pada janin dalam kandungan. Salah satunya adalah komplikasi pada kehamilan.

Ada beberapa komplikasi pada kehamilan, dari yang kerap terjadi dan dapat diatasi, hingga komplikasi yang berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian pada ibu ataupun janin dalam kandungan. Salah satu komplikasi yang cukup berbahaya adalah keguguran. Keguguran (abortus) merupakan peristiwa ketika janin keluar sebelum waktunya secara tidak disengaja. Kebanyakan, keguguran terjadi pada trimester pertama. Hal ini disinyalir akibat kelainan kromosom pada sel telur yang membantu perkembangan janin. Gejala keguguran biasanya pendarahan sehingga bila ibu hamil menemukan bercak darah pada vaginanya, ia harus segera menghubungi bidan atau dokter.

Hampir sama seperti keguguran, kelahiran prematur merupakan komplikasi pada kehamilan ketika janin keluar sebelum waktunya (sebelum 37 minggu kehamilan). Organ tubuh bayi yang lahir prematur belum sempurna dan belum siap sehingga ia harus mendapatkan perawatan khusus agar dapat bertahan hidup. Kelahiran prematur dapat membahayakan bayi, namun sebenarnya dapat dicegah karena gejalanya bisa dideteksi seperti keram, sakit saat buang air kecil, tangan bengkak, hingga sakit punggung.

Komplikasi lain yang juga bisa terjadi adalah preeklampsia. Komplikasi iniĀ  biasanya terjadi setelah 20 minggu kehamilan, dan cukup berbahaya karena dapat memengaruhi organ tubuh yang lain, bahkan dapat mengakibatkan kematian pada ibu saat melahirkan. Ibu yang mengalami komplikasi ini harus mendapatkan perawatan khusus dan bila komplikasi semakin parah, ibu harus segera melahirkan dengan cara dioperasi. Gejala komplikasi ini adalah tingginya tekanan darah ibu hamil meskipun sebelumnya ibu belum pernah mengalami tekanan darah tinggi. Selain itu, ditemukan juga protein pada urin ibu.

Beberapa komplikasi pada kehamilan belum diketahui penyebabnya, namun gejalanya dapat dideteksi. Maka, ibu hamil sebaiknya selalu rajin memeriksakan dan mengonsulatsikan kehamilannya, terlebih bila ibu merasakan sesuatu yang tidak wajar pada kehamilannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.