Jakarta, Selain pada perempuan, anemia atau kurang darah sering dijumpai pada anak-anak. Berbagai gangguan kesehatan mulai dari infeksi cacing hingga kelainan genetika membuat anak-anak rentan penyakit kurang darah.

“Yang banyak terjadi pada anak-anak, anemianya paling banyak karena cacing, kurang gizi, dan thalassemia,” kata Dr Santoso Karo Karo, SpJP(K),MPH, dokter jantung dari RS Mitra Kemayoran kepada detikHealth, seperti ditulis Rabu (29/5/2013).

“Untuk thalassemia ditransfusi, pemenuhan nutrisi, dan juga kalau cacingan dikeluarkan cacingnya dengan minum obat cacing,” tambah dokter yang pernah menjabat Ketua Yayasan PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) tersebut.

Pada anak-anak, anemia atau kurang darah bisa mempenaruhi prestasi belajar. Mneurut Dr Santoso, kurangnya aluiran darah menyebabkan suplai oksigen ke otak juga berkurang sehingga anak lebih susah konsentrasi saat belajar.

Bukan itu saja, kurang darah pada anak juga mempengaruhi tumbuh kembang. Dalam melakukan aktiitas fisik, kebugaran anak juga terpengaruh sehingga sering menyebabkan anak mudah pingsan saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya.

Lantas bagaimana mengatasinya?

Dr Santoso mengatakan, kurang darah pada anak harus diatasi berdasarkan penyebabnya. Boleh-boleh saja memberikan suplemen zat besi, namun upaya ini tidak akan banyak berguna bila penyebab sesungguhnya tidak diatasi terlebih dahulu.

“Boleh saja diberi vitamin atau suplemen penambah zat besi tetapi harus tetap dicari tau penyebabnya. Kalau dikasi vitamin atau suplemen tapi penyebabnya misal cacing tidak dibuang ya sama saja,” kata Dr Santoso.

Leave a Reply

Your email address will not be published.