Di Indonesia, terdapat  5000 bayi dengan gangguan pendengaran (tuli) sejak lahir setiap tahunnya.  Melihat data tersebut, maka angka itu begitu kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah melebihi 250 juta orang. Namun ingat, angka tersebut adalah angka yang didapat dari bayi yang lahir dan tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan dengan dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk menguji fungsi pendengaran pada bayi tersebut. Perlu diingat bahwa  terdapat fenomena Gunung Es dalam kasus gangguan pendengaran yang terjadi sejak lahir. Masih banyak kasus-kasus gangguan pendengaran yang terjadi sejak lahir, yang berdampak pada gangguan wicara pada anak di kemudia hari, yang tidak terdeteksi atau disadari oleh orang tua bahkan tenaga medis sekalipun. Karena faktanya, pertama banyak bayi dilahirkan bukan di fasilitas kesehatan yang memadai. Ancaman penyakit infeksi bahkan kematian membayangi bayi-bayi tersebut. Kedua, banyak ibu yang tidak memeriksakan kondisi kandungannya selama masa kehamilan. Ketiga, banyak calon orang tua yang memiliki riwayat penyakit yang meningkat risiko gangguan pendengaran kepada bayi yang tidak memeriksakan kesehatannya. Keempat, banyak bayi lahir yang walaupun dilahirkan di fasilitas kesehatan yang layak, tidak dilakukan skrining pendengaran pada bayi baru lahir di fasilitas kesehatan tersebut. Dan terakhir, banyak kasus gangguan pendengaran atau ketulian terlambat didiagnosis dan ditangani sejak dini sehingga baru disadari pada saat bayi yang saatnya sudah harus bicara tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Hal ini seharusnya menjadi keprihatianan bagi kita semua, bukan saja pada orang tua-orang tua yang diamanahkan untuk membesarkan anak tersebut, namun seharusnya juga pada tenaga medis dan atau fasilitas kesehatan yang diberikan tanggung jawab medis untuk menangani bayi tersebut dari sejak dilahirkan sampai besar. Gangguan pendengaran pada bayi baru lahir yang terlambat didiagnosis dan ditangani sejak dini akan menyebabkan gangguan wicara di kemudian hari. Gangguan pendengaran yang terlambat didiagnosis dan ditangani sejak dini, sekali terjadi maka akan banyak mengeluarkan biaya yang sangat besar. Bukan saja biaya pengobatan dan terapi pada anak tersebut, melainkan juga biaya psikososial karena tentunya ada masa depan bayi yang dipertaruhkan di kemudian hari. Dan sekali lagi, tentunya hal ini harus menjadi perhatian kita semua.

Sebelum kita masuk terlalu jauh tentang skrining pendengaran pada bayi baru lahir, tidak salah kita ulas sedikit peran fungsi pendengaran terhadap fungsi wicara. Pendengaran merupakan jalur masuk informasi pendengaran  yaitu berupa belajar dari lingkungan. Ia juga merupakan jalur umpan balik suara (auditory feedback) yaitu suara yang diucapkan dapat didengar,  berfungsi untuk memantau pola suara/kata-kata yang diucapkannya. Dalam hal ini ia berfungsi sebagai feedback (umpan balik) berupa  Feedback sensoris (auditif)  dan Feedback motoris. Feedback sensoris (auditif) maksudnya adalah secara tidak sadar anak yang sedang berbicara akan mendengar suaranya sendiri, sehingga ia dapat mengoreksi bicaranya sendiri. Sedangkan Feedback motoris merupakan proses mengoreksi keadaan otot-otot bicara ketika anak sedang berbicara.

Gangguan pendengaran pada bayi mempunyai karakteristik sbb :

  1. Tidak disadari dan sering terlambat terdeteksi
  2. Memiliki dampak :
  3. Terganggunya perkembangan wicara dan bahasa
  4. Gangguan bersosialisasi dan perilaku emosional
  5. Hambatan perkembangan akademik
  6. Sering terjadi misdiagnosis
  7. Berkurangnya kesempatan memperoleh pekerjaan

Tentunya diagnosis dan penanganan dini bertujuan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dari gangguan pendengaran tersebut

Gangguan pendengaran paling berisiko tinggi pada bayi-bayi yang memiliki satu atau lebih kondisi-kondisi berikut :

  1. Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran
  2. Infeksi saat masih dalam kandungan/in utero (TORCH)
  3. Kelainan kraniofasial (kepala dan wajah)
  4. Berat badan lahir kurang dari 1500 gram
  5. Hiperbilirubinemia yang memerlukan transfusi tukar
  6. Ibu dan atau anak mendapatkan obat-obat yang merusak saraf pendengaran (ototoksik)
  7. Radang selaput otak karena bakteri
  8. Skor APGAR rendah pada menit pertama setelah kelahiran
  9. Pemakaian alat bantu nafas mekanis lebih dari 5 hari
  10. Keterlambatan bicara dan bahasa
  11. Trauma kepala yang disertai penurunan kesadaran
  12. Radang telinga tengah efusi yang menetap atau berulang selama 3 bulan
  13. Kelainan anatomi gangguan pendengaran (misalnya atresia liang telinga)

 Prevalensi dan insidensi gangguan pendengaran dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

prevalensi gangguan pendengaran

Untuk mengatasi dampak yang diakibat gangguan pendengaran yang tidak terdeteksi dan tertangani sejak dini, maka para ahli membuat sebuah program/kampanye yang disebut Early Hearing Detection and Intervention (EHDI). Program ini merupakan rekomendasi dari Joint Committee on Infant Hearing (JCIH) yaitu : Program berbasis keluarga dan komunitas yang dilaksanakan secara komprehensif, terkoordinir dan dilakukan pada semua bayi. Komponen dasar program EHDI adalah :

  1. Skrining pendengaran pada bayi baru lahir
  2. Diagnostik audiologi pediatrik
  3. Intervensi dini

Tujuan program tersebut adalah penapisan gangguan pendengaran sedini mungkin sehingga apabila ditemukan gangguan pendengaran dapat diintervensi dan dihabilitasi.

Banyak Rekomendasi Berbasis Bukti Ilmiah (Evidence Based Recommendation) tentang penapisan gangguan pendengaran pada bayi baru lahir. Diantara yaitu :

Am. Joint Committee on Infant Hearing (1994)  tentang Newborn Hearing Screening Programme.
Am. Academy of Pediatrics / AAP (1998) tentang Task  force on Infant Hearing, yang memberikan asupan  bagi  JCIH, mendapatkan fakta sbb :

  • Gangguan pendengaran sejak lahir setelah adanya program EHDI ditemukan pada usia 3-6 bulan
  • Sebelum adanya program EHDI, kelainan tersebut baru diketahui pada usia 12-13 bulan

American Academy of Pediatric (1999) :

  • Deteksi dini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur tiga bulan
  • Bila ditemukan gangguan pendengaran, tindakan intervensi sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 6 bulan

Inti dari berbagai bukti ilmiah tersebut adalah Deteksi dini gangguan pendengaran tidak saja dilakukan pada bayi dengan faktor risiko tinggi, namun dilakukan pada semua bayi baru lahir.

 Skrining pendengaran banyak memiliki manfaat, diantaranya yaitu :

  1. Gangguan pendengaran pada bayi dapat diketahui sedini mungkin
  2. Tindakan intervensi terhadap cacat dengar dapat dilakukan segera mungkin (sebelum bayi berumur 6 bulan)
  3. Gangguan  pendengaran dan segala dampaknya dapat dihabilitasi dan ditangani secara komprehensif
  4. Pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari SAMA dengan anak normal lainnya.

Tahap-tahap skrining pendengaran pada bayi baru lahir dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini :

tahap-tahap skrining pendengaran